OCEAN of FEAR
Thursday, January 28, 2010
Ada sebuah kisah nyata yang berlangsung selama Perang Dunia II
yang berkesan bagi saya karena menunjukkan
betapa HARAPAN adalah pemicu kehidupan.
Sebuah kapal tanker Amerika, USS Indianapolis
berisi 900 orang awak kapal
tenggelam di perairan Filipina
yang diketahui penuh dengan ikan hiu ganas.
Pasti yang terbayang di benak kita:
bagaimana mereka akan selamat dengan begitu banyaknya predator?
Apalagi, yang berhasil selamat mengisahkan bagaimana perjuangan mereka terapung
selama 80 jam di laut lepas tanpa makan-minum.
Awak kapal tanker bertahan hidup mengapung
dengan membentuk kelompok-kelompok kecil sekoci
berisi 137 orang yang pada akhirnya "tersisa" 9 orang.
Sekawanan hiu berenang di sekeliling (=bawah permukaan air) mereka.
Pada saat mereka tertidur dengan pelampung tetap di leher, mereka bisa merasakan
bahkan "menendang" hiu dengan kaki mereka.
Ada kawan serdadu yang menginstruksikan
supaya mereka bergerak keras untuk mengusir hiu di sekeliling mereka.
Sementara ada 1 awak yang mantan nelayan tahu bahwa,
justru pada saat hiu mendekat, badan manusia harus tidak bergerak sama sekali
supaya hiu tidak menyerang.
Akibatnya, ada beberapa awak yang dimangsa hiu dan mereka yang selamat harus
menyaksikan bagaimana kepala teman mereka terlepas dari badan dan hilang
ke dasar samudera.
Sebagai catatan, pelampung yang mereka kenakan dirancang untuk 72 jam,
sementara itu sudah 80 jam berlalu dan tidak ada tanda-tanda pertolongan
bakal datang. Saat malam tiba, suasana sangat gelap, tidak ada penerangan sama
sekali.
Para serdadu yang terapung pada hari ke-2, ke-3, dan ke-4 mulai berpikir
tidak bisa pulang lagi ke rumah, mulai tenggelam satu per satu.
Persediaan air minum yang menipis dan habis, membuat mereka tidak tahan haus,
ada yang mulai minum air laut, dan setelah itu mulai berhalusinasi dan
menyerang sesamanya
Mereka harus menyaksikan sendiri sahabat dan kolega mati satu per satu
di sebelahnya dan satu per satu pula mereka harus mengambil kalung
identitas teman yang sudah tak bernyawa hingga akhirnya tangan tidak cukup
menampung kalung yang begitu banyak.
Penemuan menunjukkan bahwa sekitar 700 awak yang meninggal itu BUKAN karena
dimangsa oleh hiu, tapi karena PUTUS HARAPAN.
Hiu memangsa mayat hingga tinggal tulang-belulang saja.
Yang menarik di sini adalah perjuangan MENTAL untuk berpikir HIDUP Terus
atau "cukup sampai di sini saja".
Fakta menunjukkan, setiap tahunnya:
4 orang manusia dibunuh oleh hiu
40,000,000 ekor hiu dibunuh oleh manusia
Bercermin dari kisah memilukan tersebut, bukankah kita menghadapi
"ocean of fear" (laut ketakutan) masing-masing ?
Berapa banyak anak yang takut tidak bisa melanjutkan sekolah karena kenyataan
orang tua tidak punya penghasilan tetap?
Ada yang takut dengan ancaman penciutan pegawai di tempat bekerja, bagaimana
lagi harus memberi nafkah anak-istri?
Ada anak SD kelas 2 yang takut tidak diakui anak oleh orang tua karena nilai
rapor yang "merah" sehingga akhirnya bunuh diri.
Mengutip salah satu perwira USS Indianapolis yang selamat:
"Untuk mati itu mudah sekali, yang sulit adalah bertahan hidup"
Bukankah setiap detik hidup kita adalah pilihan:
mau hidup terus atau "cukup sampai di sini"?
mau bahagia apapun yang terjadi, atau marah berkepanjangan karena ada yang
menyakiti hati kita?
mau percaya bahwa segala hal yang kita alami itu untuk menempa mental
kita jadi makin kuat dan bisa disebut manusia dewasa?
SAAT KITA "ANGKAT TANGAN", TUHAN "TURUN TANGAN"
Justru dalam menjalani hidup sehari-hari, itulah saatnya untuk "praktek iman"
yang sesungguhnya. Segala ritual keagamaan saja baik, tapi tidak cukup.
Satu ilustrasi lagi sebelum saya akhiri tulisan ini.
Waktu balita dulu, saya suka sekali main prosotan, makin tinggi makin seru,
ngeri-ngeri asyik! Suatu saat di hari Sabtu (hari yang saya suka karena ayah, ibu
dan saya libur) saya merengek ke ayah dan ibu saya untuk mampir ke taman kota
setelah kami berjalan-jalan.
Walaupun saat itu sudah termasuk musim gugur, jadi sudah lumayan dingin cuacanya,
karena di situ ada prosotan tinggi yang sudah lama ingin saya coba.
Biasanya paling tinggi cuma yang 2 meter saja. Kali ini, tingginya hampir 3 meter
lebih. Saya semangat sekali memanjat hingga duduk di puncak prosotan, saya melihat
ke arah ayah-ibu saya di bawah yang tersenyum. Tapi mereka kelihatan jauh sekali!
Mau meluncur turun saya malah jadi ngeri. Sudah terbayang di benak saya,
bagaimana nanti kalau kepala saya membentur tanah di bawah ya?
Tanpa saya sadar, air mata saya menetes karena ketakutan (padahal bukan phobia
ketinggian)..spontan saya berteriak supaya ayah saya juga ikut meluncur
supaya saya bisa meluncur di atas pangkuannya.
Benar dugaan saya, setelah saya berada di atas pangkuan ayah saya, meluncur ke
bawah dari ketinggian 3 meter lebih itu jadi sangat menyenangkan!
Sama seperti seorang anak kecil percaya dalam genggaman tangan sang ayah,
semua permainan dari yang mudah hingga yang "mengerikan" jadi menyenangkan...
seberapa besarkah rasa percaya kita untuk meletakkan seluruh hidup kita
hari lepas hari kepada Sang Penguasa Surga dan Bumi - Tuhan Yang Maha Pengasih?
Selamat mengarungi hidup yang luar biasa bersama Sang Pemberi Kehidupan,
Tuhan Semesta Alam.
Salam Hangat,
JOAN 08155054324
yang berkesan bagi saya karena menunjukkan
betapa HARAPAN adalah pemicu kehidupan.
Sebuah kapal tanker Amerika, USS Indianapolis
berisi 900 orang awak kapal
tenggelam di perairan Filipina
yang diketahui penuh dengan ikan hiu ganas.
Pasti yang terbayang di benak kita:
bagaimana mereka akan selamat dengan begitu banyaknya predator?
Apalagi, yang berhasil selamat mengisahkan bagaimana perjuangan mereka terapung
selama 80 jam di laut lepas tanpa makan-minum.
Awak kapal tanker bertahan hidup mengapung
dengan membentuk kelompok-kelompok kecil sekoci
berisi 137 orang yang pada akhirnya "tersisa" 9 orang.
Sekawanan hiu berenang di sekeliling (=bawah permukaan air) mereka.
Pada saat mereka tertidur dengan pelampung tetap di leher, mereka bisa merasakan
bahkan "menendang" hiu dengan kaki mereka.
Ada kawan serdadu yang menginstruksikan
supaya mereka bergerak keras untuk mengusir hiu di sekeliling mereka.
Sementara ada 1 awak yang mantan nelayan tahu bahwa,
justru pada saat hiu mendekat, badan manusia harus tidak bergerak sama sekali
supaya hiu tidak menyerang.
Akibatnya, ada beberapa awak yang dimangsa hiu dan mereka yang selamat harus
menyaksikan bagaimana kepala teman mereka terlepas dari badan dan hilang
ke dasar samudera.
Sebagai catatan, pelampung yang mereka kenakan dirancang untuk 72 jam,
sementara itu sudah 80 jam berlalu dan tidak ada tanda-tanda pertolongan
bakal datang. Saat malam tiba, suasana sangat gelap, tidak ada penerangan sama
sekali.
Para serdadu yang terapung pada hari ke-2, ke-3, dan ke-4 mulai berpikir
tidak bisa pulang lagi ke rumah, mulai tenggelam satu per satu.
Persediaan air minum yang menipis dan habis, membuat mereka tidak tahan haus,
ada yang mulai minum air laut, dan setelah itu mulai berhalusinasi dan
menyerang sesamanya
Mereka harus menyaksikan sendiri sahabat dan kolega mati satu per satu
di sebelahnya dan satu per satu pula mereka harus mengambil kalung
identitas teman yang sudah tak bernyawa hingga akhirnya tangan tidak cukup
menampung kalung yang begitu banyak.
Penemuan menunjukkan bahwa sekitar 700 awak yang meninggal itu BUKAN karena
dimangsa oleh hiu, tapi karena PUTUS HARAPAN.
Hiu memangsa mayat hingga tinggal tulang-belulang saja.
Yang menarik di sini adalah perjuangan MENTAL untuk berpikir HIDUP Terus
atau "cukup sampai di sini saja".
Fakta menunjukkan, setiap tahunnya:
4 orang manusia dibunuh oleh hiu
40,000,000 ekor hiu dibunuh oleh manusia
Bercermin dari kisah memilukan tersebut, bukankah kita menghadapi
"ocean of fear" (laut ketakutan) masing-masing ?
Berapa banyak anak yang takut tidak bisa melanjutkan sekolah karena kenyataan
orang tua tidak punya penghasilan tetap?
Ada yang takut dengan ancaman penciutan pegawai di tempat bekerja, bagaimana
lagi harus memberi nafkah anak-istri?
Ada anak SD kelas 2 yang takut tidak diakui anak oleh orang tua karena nilai
rapor yang "merah" sehingga akhirnya bunuh diri.
Mengutip salah satu perwira USS Indianapolis yang selamat:
"Untuk mati itu mudah sekali, yang sulit adalah bertahan hidup"
Bukankah setiap detik hidup kita adalah pilihan:
mau hidup terus atau "cukup sampai di sini"?
mau bahagia apapun yang terjadi, atau marah berkepanjangan karena ada yang
menyakiti hati kita?
mau percaya bahwa segala hal yang kita alami itu untuk menempa mental
kita jadi makin kuat dan bisa disebut manusia dewasa?
SAAT KITA "ANGKAT TANGAN", TUHAN "TURUN TANGAN"
Justru dalam menjalani hidup sehari-hari, itulah saatnya untuk "praktek iman"
yang sesungguhnya. Segala ritual keagamaan saja baik, tapi tidak cukup.
Satu ilustrasi lagi sebelum saya akhiri tulisan ini.
Waktu balita dulu, saya suka sekali main prosotan, makin tinggi makin seru,
ngeri-ngeri asyik! Suatu saat di hari Sabtu (hari yang saya suka karena ayah, ibu
dan saya libur) saya merengek ke ayah dan ibu saya untuk mampir ke taman kota
setelah kami berjalan-jalan.
Walaupun saat itu sudah termasuk musim gugur, jadi sudah lumayan dingin cuacanya,
karena di situ ada prosotan tinggi yang sudah lama ingin saya coba.
Biasanya paling tinggi cuma yang 2 meter saja. Kali ini, tingginya hampir 3 meter
lebih. Saya semangat sekali memanjat hingga duduk di puncak prosotan, saya melihat
ke arah ayah-ibu saya di bawah yang tersenyum. Tapi mereka kelihatan jauh sekali!
Mau meluncur turun saya malah jadi ngeri. Sudah terbayang di benak saya,
bagaimana nanti kalau kepala saya membentur tanah di bawah ya?
Tanpa saya sadar, air mata saya menetes karena ketakutan (padahal bukan phobia
ketinggian)..spontan saya berteriak supaya ayah saya juga ikut meluncur
supaya saya bisa meluncur di atas pangkuannya.
Benar dugaan saya, setelah saya berada di atas pangkuan ayah saya, meluncur ke
bawah dari ketinggian 3 meter lebih itu jadi sangat menyenangkan!
Sama seperti seorang anak kecil percaya dalam genggaman tangan sang ayah,
semua permainan dari yang mudah hingga yang "mengerikan" jadi menyenangkan...
seberapa besarkah rasa percaya kita untuk meletakkan seluruh hidup kita
hari lepas hari kepada Sang Penguasa Surga dan Bumi - Tuhan Yang Maha Pengasih?
Selamat mengarungi hidup yang luar biasa bersama Sang Pemberi Kehidupan,
Tuhan Semesta Alam.
Salam Hangat,
JOAN 08155054324





0 comments:
Post a Comment