Anda mungkin sudah sering atau pernah mendengar :
"Seseorang dengan EQ tinggi lebih mungkin sukses dalam hidup
dibandingkan dengan yang hanya ber-IQ tinggi."
atau ada lagi:
"Kedewasaan tidak diukur dari usia (atau dari banyaknya kumis atau jenggot Anda),
tapi dari penerimaan akan tanggung jawab."
- kalau ini dari seorang trainer EQ & penulis muda Josua Iwan Wahyudi
atau bahkan dari leader Anda di BE dan beberapa motivator ternama:
"Anda bisa mengubah Masa Depan dari TINDAKAN Anda Sekarang,
tidak peduli apa dan bagaimanapun masa lalu Anda."
IQ yang dulunya diagung-agungkan sebagai "bibit" utama sukses, kini sudah tidak masuk dalam top #1 bahan sukses seorang anak di dunia pendidikan maupun kerja nantinya.

Saya membagikan tulisan ini berdasarkan koleksi buku saya yang sempat 'terdampar' 1 tahun sejak saya berpindah domisili 3 negara berturutan. Buku ini saya bawa dari Indonesia, judulnya
Emotion For Success karangan
Josia Iwan Wahyudi. Warnanya cukup menarik - merah cerah, dan di dalamnya terdapat banyak ilustrasi yang menggambarkan apa yang dituliskan penulis secara lugas dan pragmatik. Waktu itu saya mendapatkan buku ini secara Gratis saat mengikuti workshop singkat tapi mengena yang dibawakan oleh penulis!
Berikut ini akan saya paparkan dengan bahasa saya ya.
Di dalam buku ini dituliskan bahwa manusia adalah makhluk yang berpola. Jika kita amati, tubuh kita bekerja dengan sistem dan pola tertentu, termasuk perasaan-perasaan yang muncul di dalam diri kita.
PERASAAN hanya muncul sebagai Hasil Reaksi dari sebuah PEMICU. Jadi, EMOSI hanya muncul karena adanya sesuatu. Banyak orang tidak menyadari apa pemicu dari perasaan yang timbul sering berkata, "Kok tiba-tiba saya merasa BeTe ya". Salah satu tanda pertama orang yang cerdas emosinya : dia selalu TAHU apa perasaan yang sedang muncul dan MENGAPA perasaan itu muncul serta APA pemicunya.
 |
| Sumber: hasil googling |
Emosi juga
gabungan dari faktor fisiologis, lingkungan, dan spiritualitas.
Satu contoh, saya pernah memiliki seorang teman yang pemarah; setelah ditelusuri ternyata dia memiliki orang tua yang pemarah. Dulu saya berpikir bahwa sifat itu adalah "keturunan", namun dari hasil analisa di buku ini, sebenarnya sang anak 'meneladani' dan Meniru Pola yang dilakukan sang orang tua.
Anak usia 0 hingga 3 tahun akan meniru dan menyerap APAPUN yang mereka terima, lihat, dan alami karena mereka tidak mumpunyai filter untuk menilai dan menyaring sesuatu itu baik atau tidak.
"Emosi bisa jadi TUAN atau HAMBA.
Tergantung apakah Anda memiliki kemampuan sebagai Tuan atau Hamba"
Emosi juga energi dan emosi bisa ditambatkan.
Apakah Anda pernah mengalami saat marah lalu Anda ingin memukul sesuatu? Seolah-olah ada aliran listrik hingga ke kepala yang siap Anda muntahkan?
Atau pernah mengalami dikejar anjing yang menurut Anda mengerikan dan tiba-tiba Anda mempunyai energi untuk berlari sekencang mungkin, padahal biasanya olah raga saja tidak teratur;)?
Setiap perasaan yang muncul dalam diri kita sebenarnya merupakan energi yang siap dilepaskan.
Saya pernah mengalami perasaan jenuh yang teramat sangat, karena pekerjaan yang saya rencanakan dan lakukan tidak memberikan hasil sesuai harapan saya. Apa yang saya lakukan? Saya mencari baju-baju kotor (yang sebenarnya akan dicuci di akhir minggu), memasukkannya ke dalam mesin cuci, lalu setelah itu saya membereskan koleksi buku-buku saya dan perabotan rumah dan area kerja saya. Pada saat itu, saya juga memutar musik jenis soul, latin dan jazz pop kesukaan saya. Saya cuma berpikir, saya harus melakukan sesuatu yang 'berguna' dan memberikan hasil yang kasat mata untuk mengalihkan rasa bosan. Dengan melihat 'hasil' pekerjaan fisik saya, yaitu lingkungan yang bersih dan nyaman, maka pasti akan timbul ide-ide baru dan semangat untuk bekerja lagi.
Jadi sebenarnya kapan Anda disebut seseorang yang cerdas emosinya?
Menurut hasil penelitian penulis, ada 2 elemen untuk memenuhi sebutan orang yang ber-EQ bagus:
1. Jika Anda SADAR munculnya emosi dalam diri Anda dan orang lain, dan Anda tahu dari mana asal emosi tersebut.
Saat Anda diliputi rasa marah, tanyakan pada diri Anda : kenapa saya marah? karena apa? bagian apa yang membuat saya marah (harga diri, dsb)? hanya dengan orang tertentu atau banyak orang?
Ini pertanyaan yang sama jika orang lain mengalaminya.
2. Jika Anda secara SADAR MEMILIH untuk melakukan tindakan tertentu dalam meresponi perasaan yang muncul.
Jadi bukan dari APA tindakan kita, melainkan dari apakah tindakan kita itu HASIL dari Perasaan Sadar kita atau hanya dorongan emosi.
Apakah mungkin kita mengembangkan kecerdasan emosi kita?
IQ manusia adalah 'harga mati' sejak usia 5 tahun, jadi tidak ada makanan suplemen apapun yang bisa mengatrol IQ. IQ ini menunjukkan seberapa cepat seseorang menangkap sebuah pemahaman dan pembelajaran baru.
Berita baiknya, perkembangan EQ (kecerdasan emosi) bisa terjadi sampai kapanpun selama kita hidup!
Bahkan banyak ahli yang menyatakan usia 40 adalah usia dimana EQ seseorang terstimulasi untuk meningkat secara drastis. Bertambahnya pengalaman dan pemahaman baru tentang kehidupan yang membuat tingkat EQ menanjak naik.
Sekarang, bagaimana mengelola emosi supaya menjadi bermanfaat dan bukannya merusak?
Dengan aplikasi dari proses Think - Feel - Act dari Anthony Dio Martin.
Saat kita sudah merasa kesal / marah akan sesuatu, lebih baik mengambil jeda atau mengalihkan fokus kita dari tempat itu atau sesuatu yang memicu marah kita. Pikirkan sesuatu yang lain yang membuat kita tenang, misalnya setiap kali memegang cincin dari kekasih Anda, Anda 'menambatkan' perasaan tenang dan bahagia. Maka saat itu, peganglah cincin Anda untuk "menyadarkan" diri bahwa perasaan marah ini hanya situasional / sementara dan ada solusinya. Dengan sering berlatih pada saat-saat seperti inilah, maka kecerdasan emosi Anda akan meningkat. Tindakan kita sangat dipengaruhi oleh apa yang kita rasakan, dan apa yang kita rasakan sangat dipengaruhi oleh apa yang kita pikirkan.
Jadi lebih jelas ya sekarang, apa yang mendasari perkataan dan keyakinan bahwa "Anda bisa mengubah Masa Depan dari TINDAKAN Anda Sekarang, tidak peduli apa dan bagaimanapun masa lalu Anda." Misalnya kisah nyata dari anak seorang tukang cuci panggilan di Jakarta yang akhirnya berhasil menjadi peneliti herbal tingkat internasional yang menempuh pendidikan S1 hingga program doktor dari beasiswa yang diraihnya. Itu semua dimulai dari : APA yang menjadi Tujuan Hidup kita? Bagaimana perasaan kita saat itu bisa diwujudkan? Apa dampaknya bagi keluarga kita, teman kita, dan lingkungan kita saat itu terjadi? Berpikir tentang sesuatu yang melebihi sekedar untuk kesenangan pribadi, itulah yang disebut memiliki Noble Heart (hati yang mulia) - esensi dari mempelajari EQ. Contoh dari orang-orang dengan EQ tinggi dan nyata benar menunjukkan noble heart adalah Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, dan masih banyak orang-orang yang tidak terekspos media publikasi tapi melakukan sesuatu yang berarti untuk lingkungannya.
Saya sendiri percaya bahwa setiap orang memiliki perasaan berharga dan semangat hidup yang tinggi saat mengetahui bahwa dirinya ada karena Tujuan Hidup yang khusus dan mulia.
Sebagai penutup apa saja yang menjadi tolok ukur Anda memiliki noble heart :
Apakah Anda memiliki sebuah mimpi (atau tepatnya tujuan) besar yang tampaknya benar-benar melebihi kapasitas Anda untuk melakukannya?
Apakah tujuan tersebut membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik?
Apakah tujuan ini mengarahkan semua sisi kehidupan Anda menjadi seimbang dan fokus pada titik yang sama?
Apakah tujuan itu membangunkan Anda?
Apakah tujuan tersebut mendorong bekerja sama dan melibatkan orang lain dengan hati yang sama?
Apakah tujuan tersebut bisa diwariskan?
Suatu saat kita semua akan meninggalkan dunia ini, bukan? Pertanyaannya, apakah warisan yang akan kita tinggalkan? Mungkin Anda bisa mewariskan harta hingga generasi ketujuh dari Anda. Mungkin keturunan Anda masih bisa menikmati semua aset Anda, tapi apa gunanya jika mereka tidak pernah tahu prinsip dan nilai-nilai hidup Anda yang mulia dan layak menjadi pegangan hidup?
Itulah tujuan besar dari mengetahui dan berlatih meningkatkan kecerdasan emosi kita, untuk memiliki noble heart dan noble goal yang bisa diwariskan kepada dunia ini.
Baca selengkapnya...